Pemupukan dan Penyiangan Padi ekologis

By | 6 Oktober 2017

Dari pengalaman eksperimental kami di berbagai daerah seperti Dompu, Bima, dan Mamasa, pupuk Ngada yang digunakan dalam metode SRI hanyalah pupuk organik yang berasal dari pakan ternak (seperti jerami, batang pisang, dan tanaman daun kuncir) atau kotoran ternak (seperti sapi, kerbau, dan ayam). Bahan ini harus dikomposkan sebelum digunakan sebagai pupuk. Untuk menambahkan kandungan gizi, pupuk organik dilengkapi dengan pupuk organik cair yang mengandung mikroorganisme lokal (MOL). Pupuk organik cair ini terbuat dari tulang ikan, rumah potong hewan, buah, dan air beras yang difermentasi dengan air kelapa atau air kelapa selama 15 hari. Kebutuhan pupuk organik adalah 7-10 ton per hektare lahan.
Berdasarkan percobaan kami, diketahui bahwa tanaman padi bukan tanaman air, namun tanaman darat (terestrial) yang dalam pertumbuhannya membutuhkan air. Oleh karena itu, dalam metode SRI, padi ditanam pada kondisi tanah tanpa noda. Tujuannya, agar oksigen yang bisa dimanfaatkan akar lebih banyak tersedia di dalam tanah. Selain itu, dalam kondisi tidak stagnan, akarnya bisa tumbuh lebih subur dan besar sehingga tanaman bisa menyerap nutrisi sebanyak mungkin.
Proses pengelolaan air dan penyiangan pada metode SRI dilakukan sebagai berikut.
Saat padi mencapai usia 1-8 hari setelah tanam (HST), kondisi air di lapangan adalah “macak-macak”.
Setelah padi mencapai usia 9-10 HST airnya kembali naik dengan ketinggian 2-3 cm selama 1 malam saja. Hal ini dilakukan untuk memudahkan penyiangan pertama.
Setelah penyiangan selesai, sawah dikeringkan sampai padi mencapai usia 18 HST.
Pada usia 19-20 HST sawah lagi dibanjiri penyiangan yang mudah pada tahap kedua.
Selanjutnya, setelah berbunga, sawah disiram setinggi 1-2 cm dan kondisi ini dipertahankan sampai nasi “masak susu” (± 15-20 hari sebelum panen).
Kemudian sawah dikeringkan lagi sampai waktu panen tiba

Hama Penyakit dan Pengendalian Penyakit
Dalam metode SRI, pengendalian hama dilakukan dengan sistem PHT. Dengan sistem ini, petani diajak untuk bisa mengelola unsur-unsur agroekosistem (seperti solar, tumbuhan, mikroorganisme, air, oksigen, dan musuh alami) sebagai alat untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Cara yang dilakukan petani misalnya dengan menempatkan baling-baling bambu / sawah di sawah sebagai capung “terminal” atau burung Selain itu petani juga menggunakan pestisida organik berupa ramuan yang diolah dari bahan alami untuk menghalau hama. Untuk pengendalian gulma, metode SRI bergantung pada kerja manusia dan sama sekali tidak menggunakan herbisida. Biasanya digunakan alat yang disebut “susruk”. . Ini adalah semacam rake yang berfungsi sebagai penarik gulma. Dengan alat ini, gulma yang telah tumbang sekaligus akan direndam ke dalam tanah untuk menambahkan bahan organik tanah. Perlu diingat bahwa dalam penerapan metode SRI, gulma akan tumbuh relatif banyak karena sawah tidak selalu ada dalam kondisi terendam air.

Pemeliharaan
Sistem tanam sistem SRI tidak memerlukan waterlogging terus menerus, hanya dengan kondisi tanah basah. Banjir hanya dilakukan untuk memudahkan perawatan. Dalam prakteknya pengelolaan air dalam sistem padi organik dapat dilakukan sebagai berikut; Pada umur tanaman padi 1-10 HST dibanjiri dengan ketinggian air rata-rata 1cm, maka pada umur 10 hari penyiangan. Setelah penyiangan tanaman tidak terendam. Untuk perawatan yang masih perlu penyiangan selanjutnya, maka dua hari sebelum penyiangan tanaman. Pada saat tanaman berbunga, tanaman stagnan dan setelah bibit tanaman padi matang tidak kebanjiran sampai panen.

Untuk mencegah hama dan penyakit SRI tidak menggunakan bahan kimia, namun dilakukan intermediate dan dalam kasus penyakit hama / penyakit menggunakan pestisida nabati dan atau menggunakan kontrol fisik dan mekanik.