Cara Budidaya Padi Sawah Sistim SRI

By | 6 Oktober 2017

Keuntungan lain dari penerapan budidaya padi S.R. Saya mengurangi emisi CH4 karena sawahnya tidak terendam. Inilah keuntungan lain dari penerapan Budidaya Padi S.R.I. secara ekstensif. Melalui penerapan Budidaya Padi S.R.I. Secara luas, emisi metana dari sawah juga akan berkurang secara signifikan sehingga secara nasional. Pemerintah Indonesia dapat menunjukkan partisipasi aktif dalam mengurangi emisi CH4.
Prinsip Budidaya Sri
SRI atau Sistem Intensifikasi Padi didasarkan pada 4 hal utama:
1. Menanam bibit muda (5-15 hari setelah bibit)
2. Tanam 1 biji tempat tanam
3. Tetapkan jarak tanam lebih lebar (30 x 30 cm sampai 50 x 50 cm; di Indonesia, jarak tanam ideal untuk SRI adalah 35 x 35 cm atau 35 x 35 cm)
4. Pengelolaan irigasi super efisien dengan cara intermiten (intermiten, intermiten antara penyampaian air maksimum 2 cm dan pengeringan tanah sampai retak).
Selain keempat hal tersebut, disarankan untuk menggunakan pupuk organik. Pupuk organik selain memberikan nutrisi lengkap (makro dan mikro) juga memperbaiki struktur tanah, sehingga meningkatkan ketersediaan nutrisi bagi tanaman, cukup udara untuk rooting, dan meningkatkan kapasitas menahan air.
Berikut ini adalah prinsip budidaya yang telah diterapkan yaitu:
1. Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah dilakukan seperti yang direkomendasikan dalam sistem konvensional. Sangat disarankan untuk menyediakan pupuk kandang / kompos / pupuk hijau saat membajak tanah. Sekitar plot dibuat parit dalam 30 – 50cm untuk membantu selama masa pengeringan.
2. Benih
Pemuliaan di SRI sangat dianjurkan dalam wadah plastik, kayu, anyaman bambu yang dilapisi daun bambu, atau apapun yang bisa digunakan. Hal ini untuk memudahkan perpindahan saat menanam. Media tanah untuk pembibitan harus mengandung kompos atau pupuk organik dengan ketebalan 4-5 cm. Benih diberi perlakuan khusus untuk mendapatkan bibit terbaik. Lihat “Perawatan Benih Beras”
3. Pindahkan Cropping
Sebelum memindahkan tanam sebaiknya lahannya benar-benar rata dan kemudian dibuatkan garis tanam dengan menggunakan kancing untuk penanaman biasa dengan jarak yang seragam. Jarak tanam yang disarankan adalah 30 x 30 cm, 35 x 35 cm, atau pada tanah subur bisa dikurangi menjadi 50 x 50 cm.
Bibit dapat ditransplantasikan pada 5-15 hari setelah bibit (daun 2) dengan jumlah 1 biji pelet. Tanam bibit sekitar 1 – 1,5 cm dengan posisi akar untuk membentuk huruf L. Caranya adalah dengan membenamkan bibit pada jarak sekitar 10 cm di belakang titik tanam, lalu bergeser ke titik tanam, jadi posisi akar seperti huruf L.
4. Pemupukan.
Pemupukan dilakukan sesuai saran lokal, baik dosis maupun pemberian teknis. Hal ini disebabkan karakteristik kesuburan tanah yang berbeda di setiap lokasi. Bila menggunakan pupuk kandang, dosis pupuk kimia dapat dikurangi (dalam hal ini sebaiknya berkonsultasi dengan BPP setempat).
5. Weeding / Weed Control.
Pengendalian gulma sebaiknya dilakukan minimal 3 kali selama masa tanam sesuai dengan kondisi di lapangan. Kontrol gulma yang baik sebaiknya menggunakan alat penyatu (lalandak) yang lebarnya disesuaikan dengan jarak tanam. Gulma gulma bisa direndam atau disisihkan (dalam hal ini jika dominasi spesies kurus seperti jig.).
6. Penyiraman
Penyiraman atau pengairan dilakukan sebentar-sebentar atau tanpa penghentian. Pada awal penanaman, persediaan air dilakukan sampai kondisi paling tidak macak-macak atau maksimal sekitar 2 cm. Kemudian biarkan kering sampai kondisi tanah mulai pecah dan mulai lagi dengan pengiriman air maksimal, dan seterusnya. Kondisi tanah kering terbelah sehingga memungkinkan lebih banyak oksigen ke dalam pori-pori tanah yang akan memperbaiki proses respirasi (pernapasan) rooting. Kondisi ini tentunya akan meningkatkan pertumbuhan rooting dan pengembangan anakan. Serta sistem konvensional, suplai air berhenti selama periode pematangan padi.
7. Pengendalian Hama dan Penyakit.
Dalam metode SRI, pengendalian hama dilakukan dengan sistem PHT. Dengan sistem ini, petani diajak untuk bisa mengelola unsur-unsur agroekosistem (seperti matahari, tumbuhan, mikroorganisme, air, oksigen, dan musuh alami) sebagai alat untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Cara yang dilakukan petani misalnya dengan menempatkan bilah / batang di sawah sebagai capung “terminal” atau burung Selain itu petani juga menggunakan pestisida dalam bentuk ramuan yang dibuat dari bahan alami untuk menghalau hama.