Brownis Singkong ala depok

By | 3 November 2016

u9Paktani.info – Petani merupakan pahlawan yang secara tidak langsung membantu memenuhi kebutuhan pokok kita. mengapa begitu? sebab jika tidak ada yang menanam pagi apakah kita bisa makan nasi? jika petani tidak ada apakah kita bisa menanam sendiri sedang lahan tidak pui indonesia memiliki iklim tropis sehingga cocok untuk menanam padi, singkong, pisang, dan ubi jalar yang kesemua itu merupakan komoditas andalan kita. berikut kita bahas masalah budidaya tanaman dan langkah-langkahnya.

Bogor dikenal dengan oleh-oleh khasnya lapis Bogor yang berbahan talas dan Depok ingin memperkenalkan brownies singkong selain juga belimbing yang sudah dikenal lama sebagai oleh-oleh khasnya. Lewat gelaran ini, Depok hendak memperkenalkan brownies singkong sebagai ikon baru kuliner khas yang tidak hanya lezat, tapi juga sehat.

Singkong sangat potensial ditanam di daerah Depok, meskipun demikian saat ini produksi mocaf (modified cassava flour) yang merupakan tepung singkong modifikasi ini masih di Wonogiri yang terbesar dan kemudian Bogor. Setelah brownies singkong ini berhasil dijadikan icon Depok, maka ada prospek pada pengembangan pengolahan mocaf di Depok. Saat ini harga mocaf juga masih lebih mahal daripada terigu, pasaran harganya Rp.11.000,00/kg.

Beberapa waktu sebelumnya panitia mengadakan lomba cipta kreasi pangan lokal berbahan mocaf oleh PKK dan UPT Pendiddikan se-Kota Depok. Diikuti 11 Kecamatan yang masing-masing mengirimkan 3-4 makanan siap saji beserta resep. Pemenangnya adalah PKK Kecamatan Limo (juara 3), PKK Kecamatan Tapos (juara 2), dan PKK Kecamatan Pancoran Mas (juara 1). Penilaian pemenang berdasarkan kreasi dan inovasi, cita rasa, penyajian, dan presentasi, serta keamanan konsumsi.

Festival diselenggarakan untuk meningkatkan pengetahuan akademisi terhadap ketahanan pangan sehingga Kota Depok menjadi diskursus ilmiah yang produktif bagi dunia pendidikan. Tujuan lainnya adalah memasyarakatkan pola makan beragam, bergizi, seimbang, aman, dan halal (B2SAH), dan media promosi dan propaganda positif terhadap ketahanan pangan yang menjadi primadona Kota Depok.

Pada kesempatan yang sama, Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail mengatakan bahwa Festival Kuliner Singkong 2015 menerjemahkan geliat kesadaran warga, mulai tingkat kota, kelurahan, RW, RT dan seterusnya terhadap pola makan di Indonesia yang telah mengalami penurunan kualitas dan perubahan selera sejak era 1970-an.

Dia menjelaskan penyebabnya, yakni kekurangpahaman terhadap fisiologi tubuh dan kebutuhannya; kesejahteraan ekonomi masyarakat meningkat; dan ketidakmampuan untuk mengendalikan hawa nafsu.Akibatnya kini banyak kasus obesitas yang berakibat menjangkitnya penyakit diabetes mellitus dan berbagai penakit tidak menular lainnya, ujar walikota Depok Bapak Nur Mahmudi saat membuka Festival Kuliner Singkong 2015.

Kegiatan dilanjutkan dengan Seminar Ketahanan Pangan Nasional “Mengembalikan Pangan Lokal Nusantara” dengan pembicara walikota Depok Bapak Nur Mahmud Ismaili, Pengurus DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Rita Ramayulis, dan Tatik dari Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian RI yang dipandu presenter TV terkenal artis Indra Bekti.

Bukan dengan kajian sembarangan hingga akhirnya Depok mengusung brownies singkong sebagai perwujudan ketahanan pangan sekaligus ikon kota yang baru. Dahulu saat arus westernisasi sangat kencang, orang Indonesia gengsi makan tempe, padahal tempe makanan khas Indonesia. Namun ketika tempe menjadi menu salah satu restoran di Jepang, bahkan akhirnya justru dipatenkan di Jepang, Indonesia mulai meliriknya. Demikian pula singkong, yang dengan manfaat kesehatannya, tidak sepatutnya dipandang sebagai panganan kalangan bawah.

Rita yang merupakan Dosen Fakultas Ilmu Gizi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) ini mengatakan bahwa makan bukan semata untuk mendapatkan nilai gizi, tapi nilai plusnya seperti kecantikan dan kebugaran. Secara penampilan, singkong terlihat jelek dan tidak elit, tapi sumber karbhohirat ini memiliki kandungan karotenoid sebagai bagian dari betakaroten yang memberi manfaat antioksidan saat menjadi asupan untuk tubuh.

“Kita tahu, tingkat stres masyarakat perkotaan makin tinggi. Polusi juga menjadi-jadi. Kalau tidak dikelola dengan makanan, maka oksidan atau racun akan menumpuk dalam tubuh,” tuturnya.
Obesitas di Indonesia meningkat setiap tahun. Tahun lalu 11,7 persen dan sekarang 15,4 persen. Jika tidak dihentikan lajunya, maka 10 tahun mendatang akan menjadi 25 persen. Bahkan, 1 dari 4 orang Indonesia akan mengalami obesitas. Menurut Rita, peningkatan prevalensi obesitas berkaitan dengan peningkatan konsumsi nasi dan tepung terigu. Padahal, sumber karbohidrat tidak semata tepung dan nasi.

“Terigu kalau dikonsumsi berlebihan, tidak cocok untuk orang Indonesia. Terigu butuh peptidase untuk mencernanya sedangkan enzim tersebut di tubuh orang kita tergolong rendah. Gluten pada tepung juga berkaitan dengan autis dan anak-anak hiperaktif. Nasi mengandung pH asam sedangkan pH darah cenderung netral. Jika dikonsumsi berlebihan, pH darah akan asam yang memicu diabetes mellitus,” paparnya.

Depok telah selangkah lebih maju dalam hal ketahanan pangan. Sebagai contoh Festival Kuliner Singkong 2015 yang merepresntasikan UU Nomor 17 tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi. Pasal di dalamnya menyatakan bahwa pemerintah daerah mempunyai tugas untuk mengembangkan keanekaragaman pangan di wilayahnya.

“ODNR mendukung program ketahanan pangan. Banyak makanan pokok di Indonesia, tidak harus beras. Sekitar 77 sumber karbohidrat ada di Indonesia, mulai Sabang sampai Merauke. Singkong pun tanaman yang mudah dikembangkan, dan ada di hampir seluruh Indonesia,” ujarnya.

Nur Mahmudi kembali mengatakan, selain mengganti makanan pokok dari beras dan tepung, pola makan yang kini dikampanyekan di Depok adalah beragam, bergizi, seimbang, aman, dan halal (B2SAH) sebagai ganti “4 sehat 5 sempurna” yang masih mengutamakan nasi. JIka tidak segera direspons, ujar dia, kemungkinan pelan-pelan bukan hanya 25 persen prevalensi obesitas di Indonesia.
“Di perkotaan, termasuk Depok, bisa lebih dari itu. Bisa sampai 30 persen, makanya kita programkan,” tandasnya.

Selain alasan kesehataan maupun kecantikan dan awet muda, singkong pun membantu mengangkat perekonomian masyarakat pedesaan sebagai petani singkong. Dia berharap warga kampung tetap produktif di tempatnya tinggal untuk mengembangkan potensi daerah, termasuk singkong, dan menjadi pemasok bahan utama bagi masyarakat perkotaan.

“Brownies singkong malah lebih sehat. Nasi ternyata jahat. Saya lihat inspirasinya dari Pak Nur Mahmudi yang perutnya enggak buncit seperti saya. Pak Nur mengaku empat tahun lebih enggak makan nasi dan terigu,” tutur presenter kocak ini.

Terlihat ratusan orang memadati lokasi acara untuk turut serta menikmati brownies singkong yang disusun menjadi sepanjang 600 meter dalam acara Festival Kuliner Singkong kali ini. Salah satunya terlihat presenter Indra Bekti yang mengakui bahwa rasa brownies singkong tidak berbeda dengan brownies berbahan tepung terigu.

Namun demikian informasi acara ini sebelumnya kurang tersebar merata, terbukti ada beberapa warga Depok yang tidak tahu acara ini, bahkan ketika mereka ada di Margo City Mall tidak tahu bahwa acara ini untuk umum dan mereka boleh merasakan brownies singkong dengan percuma tanpa membayar. Beberapa pengunjung yang hadir juga membawa beberapa kotak brownies padahal seharusnya hanya sekotak.

Peluncuran brownies singkong Bang Nur sekaligus ditandai dengan pencatatan rekor brownies terpanjang di Indonesia oleh Museum Rekor Indonesia (MURI). Brownies singkong dijejer rapi dan dihias cantik menjadi sepanjang 600 meter. Brownies ini dibuat oleh 18 UKM kuliner di Depok selama dua hari. Mereka berhasil membuat 2.020 loyang brownies yang menghabiskan 1,616 kwintal tepung mocaf, dan 8.080 butir telur untuk menyajikan brownies singkong ini.
Begitulah artikel yang dapat kami sampaikan dan jika ada pertanyaan silahkan tulis di kolom komentar dan jangan lupa menggunakan bahasa yang baik. terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *