Indonesiaku…kotor…
Entah harus dengan cara apa negara ini harus dibersihkan. Sebegitu kotornya, hingga tiap pemandangan menjadi keruh. Tak bisa lagi dibedakan, mana yang benar mana yang salah, siapa yang benar siapa yang salah. Indonesiaku… indonesiaku… Entah apa yang ada dalam benak para pejuang dulu, jika mereka menyaksikan “melodrama” skandal besar-besaran ini. Entah apa yang ada dalam pikiran para pejabat negri ini, hingga begitu kotornya negri ini, sampai-sampai sulit untuk di bersihkan. Bahkan bisa dibilang MUSTAHIL.
Mirisnya bangsa ini, mulai dari pejabat yang korup, penegak hukum yang kotor, peradilan yang tak adil, hingga rakyat yang miskin dan haus uang demi perutnya. Belum lagi bencana yang mendera diseluruh pelosok negri. Seakan-akan nasib bangsa ini tinggal di ujug tanduk. Tak ada masa depan bagi bangsa ini. Dera yang mendera bangsa saat ini, lebih mengerikan daripada era Orde Baru. Kalau d era Orde Baru, semua orang menyalahkan Soeharto sebagai dinasti yang berkuasa pada saat itu. Tapi, saat ini? Justru siapapun yang berani mengungkapkan kebenaran, akan di balik menjadi yang bersalah…kemudian di tangkap dan di bunuh karakternya.
Lihat saja Susno Duadji, seorang Jendral Polisi, yang bersuara tentang bobroknya peradilan di Indonesia. Kini, justru ia yang ditangkap. Mafia kasus diberatkan padanya. Kasus “Arwana” yang konon mencuat karena siulannya, kini di timpakan padanya. Sebagai orang awam yang tidak mengerti politik dan hukum saya hanya bisa berpendapat bahwa, ada “sesuatu” disana. Ada sesuatu di institusi POLRI, ada sesuatu di kabinet yang berkuasa sekarang, ada sesuatu di Indonesia. Sesuatu yang memiliki kekuatan besar, yang tidak mungkin digulingkan begitu saja. Dibutuhkan lebih dari seorang Susno di Indonesia ini. Harus lebih banyak Susno di Indonesia, saat ini.
Lihat juga Sri Mulyani. Sosok sederhana dan tegas, tak kenal kompromi yang semakin hari semakin panas kupingnya berada di Indonesia. Ketertutupannya dan elakannya yang khas (baca: “Saya ‘kan mengikuti prosedur”), semakin menohoknya sebagai dalang pada kasus Century. Namun, bila kita terus mengikuti media massa setiap hari, jelas terlihat sang Presiden berdiri di belakangnya. Mendukung dan mem-backup langkah-langkahnya. Ada apa ini? Ada apa dengan kabinet ini? Ada apa dengan Indonesia ini?
Mari kita lihat dari iklim politik yang kian tak menentu. Demokrat yang berkuasa selama dua tahun berturut-turut tak terjatuhkan. Walau telah di demo masyarakat disana-sini. Golkar yang bermanuver tak jelas, dulu ia menuntut dengan keras agar kasus century di tuntaskan. Kini, Golkar pula yang mendengungkan agar di “peti es”-kan. Mungkin ini pula yang memicu Surya Paloh mendirikan Nasional Demokrat, yang menurut saya akan menjadi parpol nantinya. Tapi, amat disayangkan, ketika Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang konon bersih ini tak bersuara. Padahal, banyak masyarakat yang berharap agar partai ini menunjukkan karirnya. Entahlah, mungkin karena salah satu kadernya kini menjadi tergugat kasus LC fiktif.
Indonesia kini sudah amat carut marut. Uang menjadi satu-satunya nilai di mata manusia Indonesia. Sudah terlambat bila kita mengatakan “Jangan sampai Indonesia menjadi negara mafia”. Justru Indonesia telah menjadi negara mafia. Indonesia telah dijajah, dijajah pejabatnya sendiri. Saat ini, tak ada lagi asas praduga tak bersalah. Yang ada hanya “semua pejabat itu bersalah, semua korup”. Ya, itulah yang terbesit di benak saya. Yang jelas, Indonesia membutuhkan lebih dari seorang Susno. Harus ada Susno-Susno yang lain yang yang bersuara. Semoga, melalui tulisan ini maka akan muncul Susno-Susno terbaru. Dan semoga, melalui tulisan ini, akan membuka mata rakyat Indonesia hingga terpanggil untuk mendukung susno dan membersihkan Indonesia tercinta ini…Agar tragedi ’98 tidak perlu terjadi lagi…
Semoga



mas pindah aja ke negara lain hehehehe……memang sulit untuk dibersihkan karena sudah menjadi kangker tomor ganas , bisa sih nunggu keajaiban dari yang kuasa (ALLAH) tenggelamkan negeri ini.ganti dengan kehidupan yang baru.manusia yang baru tatanan yang baru…tapi…itu hanya Tuhan yang bisa.kalau ngak ya…nikmati aja mas…biar aja emang gua pikirin,yang penting kita baik2 aja dan tidak ikut2an merusak alam dan kehidupan ini.oke mas…sukses hanya yang muda2 yang berani dan mampu berubah tatanan yang sdh rusak seperti ini.
hehehe…iya Om…
nama’a juga menumpahkan pikiran..
ya setidaknya supaya bisa ngelepas uneg2 aja Om…
btw, Aceh kan emang dah beda negara ‘kan Om?
hahahah