Teroris, Islam, Aceh….
Tiba-tiba tanah suci itu kini mulai “ramai” lagi. Bukan karena adanya suatu hal yang membanggakan, tapi karena adanya pertumpahan darah (lagi). Kali ini, darah yang mengucur itu di atas namakan dengan “Pemburuan Teroris”. Sungguh pilu. Kedamaian yang baru sebentar dikecap oleh masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam ternyata tak bertahan lama, kini lagi-lagi masyarakat harus was-was, waspada, dan saling menaruh curiga.
Berawal dari pergerakan para teroris di daerah Aceh, dan mungkin akan berakhir dengan intervensi pada mental-mental masyarakat yang sudah amat trauma dengan suara senjata. Kenapa harus Aceh? Sudah sedemikian terpojokkah para teroris binaan Azhari ini? Atau, mereka merasa dapat merekrut masyarakat Aceh yang notabene berlatar belakang ISLAM. Yah, mungkin karena itu. Tapi seharusnya mereka mempelajari sejarah perjuangan Aceh dulu. Masyarakat Aceh berjuang demi berdirinya negara Islam di Aceh. Masyarakat Aceh berjuang dengan cara frontal walaupun secara gerilya melawan pemerintahan. Tidak dengan teror kepada masyarakat (walaupun pada titik-titik tertentu ini terjadi), tapi dengan menyerbu pihak keamanan. Ini adalah perbedaan yang paling mendasar, masyarakat Aceh tidak melakukan kezaliman seperti yang dilakukan oleh para teroris-teroris itu.
Sekarang, ketika keadaan semakin terjepit, para teroris mencoba membaur dengan masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat lagi-lagi menjadi korban. Harus bersedia di razia, harus rela barang-barang bawaannya di acak-acak (mungkin sudah saatnya pihak keamanan membuat sebuah “ETIKA RAZIA”), perjalanannya terganggu, ketidaknyamanan menjadi hal yang wajar.
Di lain pihak, ada hal yang mungkin dulu pernah menjadi bahasan banyak orang. Mengapa selalu harus ditembak mati? Bukankah para polisi, TNI, Brimob, dan pihak-pihak keamanan lain di Indonesia merupakan orang-orang jago tembak yang sudah amat terlatih? Tak bisakah bila yang di tembak itu tangan atau kakinya? Setidaknya, bila tertangkap dalam keadaan hidup, bisa jadi ada banyak informasi yang didapat. Fiuhh…entahlah…
Sebagai warga negara, ku hanya bisa berharap agar pemerintah bisa lebih bijak menangani masalah ini. Cobalah pertimbangkan hati para nyak-nyak (panggilan pada ibu-ibu tua di Aceh) dan yahwa-yahwa (panggilan pada bapak-bapak tua di Aceh) yang sudah amat jenuh dengan semua permasalahan di Aceh.


