Muhammad Farhan, bukan Darius

Posted by sibudi | Cerita Dikit | Saturday 20 February 2010 1:09 am

Muhammad Farhan, itu nama panjangnya. Aku biasa memanggilnya bang Farhan. Sosok santun namun berpendirian keras. Seorang yang kami (aku, keluargaku dan dia) sepakati sebagai salah satu anggota keluarga tambahan, saudara angkatku.Dia Farhan, bang Farhan, bukan Darius. Dia memiliki sejuta pengalaman hidup, mulai manis hingga getir. Aku banyak belajar kebijaksanaan darinya.

Ku telah lupa kapan terakhir bertemu dengan dia. Seingatku, sekitar empat tahun yang lalu. Dia berpamitan untuk mengadu nasib di jakarta. Dia ingin mendapatkan kenyamanan dan kesejahteraan. Entah apa yang ada dalam pikirannya, tak satupun dari kami yang bisa menahan keinginannya. Sampai akhirnya, sore tadi aku berhasil bertemu dengan dia. Dia yang sekarang jauh makin kurus, makin terlihat lelah namun tetap dengan senyum khasnya yang bersahaja. Dia Farhan, bukan Darius.

Dia, memilih meninggalkan keluarga, kemewahan, dan kesenangan dunianya hanya demi keyakinannya. Keyakinan yang ia kenal ketika masa SMAnya dulu. ISLAM. Tak mudah memang, menjalani hidup di posisi dirinya. Penuh tekanan, hambatan, rintangan tapi dia tetap bertahan. Malah ia berani menantang rintangan itu. Sungguh kemampuan hati yang tangguh. Tak pernah aku menemukan sosok setangguh dia. Setegar dia, Farhan, bukan Darius.

Umurnya sudah tak muda lagi sekarang, sekitar 36-37 tahun. Namun, ia belum menambatkan cintanya. Katanya, ia belum siap. Ia masih berusaha memantapkan hati dan ekonominya. Di usianya, ia masih belum juga mencapai satu titik terang kehidupan. Dia masih terombang-ambing keganasan Jakarta. Ia masih terlindas keriuhan Jakarta. Dan menurutnya, ia masih harus mencari pengalaman di Jakarta. Meski pengalaman yang ia miliki telah berjuta, tapi menurutnya ia masih harus mencari. Dia Farhan, bang Farhan, bukan Darius.

Aku telah berusaha untuk membujuknya kembali ke rumah di Aceh, atau setidaknya ke Jogja bersama ku. Tapi tak berhasil. Pendiriannya untuk tetap “mencari pengalaman” di Jakarta begitu keras. Padahal, kami, keluarganya di Aceh telah sangat menantinya. Walau tak bisa memberikan kesejahteraan yang diberikan keluarganya. Kami telah berusaha memberikan kehangatan keluarga. Setidaknya kami telah berusaha.

Seandainya dia bisa merasakan keinginan kami padanya. Agar ia menjadi keluarga besar kami. Salah satu anggota keluarga kami. Abang tertuaku, tempatku bisa bercerita, mengkonsultasikan masalah, atau berbagi canda tawa. Andai dia bisa mengerti, betapa mama merindukan dia. Andai dia tahu, keluarga di Aceh amat kehilangan dirinya. Andai dia mencukupkan “mencari pengalaman”, lalu kembali dan menerapkan pengalaman yang telah ia dapat. Mungkin ia tak akan sekurus ini. Mungkin dia sekarang telah menikah. Atau bahkan mungkin, ia sekarang telah menjadi seorang da’i. Seandainya…

Seandainya dia sadar, dia Muhammad Farhan, bukan Darius. Darius sudah hilang, tak ada lagi Darius. Yang ada hanya Farhan, bang Farhan !!!

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment