“Pemakluman”, Ketika Standar Diturunkan
Sudah menjadi hal yang wajar, manakala seseorang memiliki standar-standar tertentu dalam hidup ini. Baik dalam hal pekerjaan, pencapaian, pendapatan, atau hal-hal lain. Bisa dibilang, hampir di setiap aspek hidup, setiap orang memiliki standarnya masing-masing. Tak harus sama, namun yang jelas pasti cukup memuaskan bagi seseorang tersebut. Namun, tak jarang kita menemukan ada orang-orang yang tak puas pada hidupnya (yaitu orang-orang yang terbiasa mengeluh), karena sesuatu yang menjadi target atau keinginannya tak tercapai. Dan ketika hal ini terjadi, hal pertama yang mereka lakukan adalah “mengikhlaskan” apa yang dicapainya itu. Pertanyaannya, apakah itu wajar?
Untuk sedikit membuka mata kita, mari simak sedikit cerita berikut ini:
“…Hari itu, Fuad kelihatan begitu sibuk dan tekun pada kerjaannya. Begitu seriusnya, hingga ia lupa malam telah berlalu, kini subuhpun telah hampir usai. Padahal ia harus segar pada saat presentasi hasil pekerjaannya tersebut. Akhirnya, dengan mata yang sedikit kuyu ia bersemangat ke kantor, mengikuti meeting yang juga dihadiri atasannya dan calon partner perusahaannya. Dalam presentasinya, ia menjelaskan tiap point begitu detail dan jelas. Setiap pertanyaan, dijawabnya dengan lugas. Walau demikian, sesekali dia menyempatkan diri untuk ‘menguap’, sekedar untuk menghilangkan kantuk pikirnya. Setelah presentasi selesai, para tamu tampak sedikit berfikir. Lalu memutuskan untuk menyampaikan pendapat mereka pada pertemuan selanjutnya. Fuad, yang telah mengeluarkan seluruh kemampuannya sedikit mengerutkan dahinya, berusaha mengerti keputusan para calon partner perusahaannya itu. Tak lama setelah para tamu pergi, sang atasan menghampirinya dan berkata “Bagus..bagus! Tapi, sepertinya tadi persiapannya kurang matang, dan kamu kelihatannya kurang istirahat”. Serta merta Fuad menjawab “Ya Pak, terimakasih, ini saya kerjain semalaman, saya saja belum tidur nih sampai sekarang. Maaf ya pak, maklum saya berusaha yang terbaik untuk hari ini”. Dan sang atasan pun terdiam dan berlalu…”
Dalam cerita itu, karakter Fuad menunjukkan seorang yang workaholic, yang mempunyai standar tinggi untuk pencapaian pekerjaannya. Namun sayang, pada akhirnya ia menurunkan standar tersebut sehingga usaha yang dilakukannya sia-sia. Seharusnya, bila dengan effort yang sedemikian rupa, ia berhak mendapat respon yang antusias dari para tamu. Ia berhak atas pujian dari atasannya, pujian tanpa kata “tapi”.
Inilah yang kerap kali terjadi pada kehidupan kita setiap hari. Selalu saja ada pemakluman yang kita lakukan atas sesuatu yang tidak mencapai target yang kita harapkan. Mungkin benar, pemakluman itu perlu, tapi apakah harus dengan menurunkan standar pencapaian kita sendiri? Target, standar, atau apapun namanya, kita sendiri yang menentukan. Lalu, bila setiap target itu selalu kita tolerir terhadap kegagalan, apakah kita akan pernah mencapai titik kulminasi tertinggi?
Yang lebih parah lagi, bila seorang “pemaklum” ini, menempati posisi penting. Seorang atasan yang memiliki bawahan, misalnya. Maka akan sangat menurunlah performa tim tersebut. Karena setiap target, standar pencapaian, atau nilaiĀ sukses terhadap suatu kegiatan itu selalu di “maklumi”, selalu di “tolerir”. Seharusnya kita menanamkan pada setiap diri kita masing-masing, bahwa “TARGET KU ITU HARUS KUCAPAI“. Sehingga, dengan demikian kita akan sungkan memaklumi diri kita sendiri, malu pada potensi yang kita miliki.
Pada hakikatnya, bila kita mentolerir pencapaian yang tidak sesuai dengan target yang kita tentukan, itu artinya kita menurunkan target yang kita capai. Atau dengan kata lain, kita menurunkan standar suatu pencapaian tersebut. Hal lain yang menjadi akibat dari hal ini adalah, pemkluman berantai yang akan terjadi terus menerus. Tentu saja ini akan amat berdampak pada tiap pergerakan yang kita lakukan. Hingga pada akhirnya, yang muncul pada kalimat akhir “…kita kan manusia, tak ada yang sempurna…”.
Mari, kita hindari PEMAKLUMAN pada pencapaian yang telah kita targetkan!



“TARGET KU ITU HARUS KUCAPAI”
Aq petik kata2 itu broo…
Nice Post.
mengerjakan tugas semalaman, dan ditilang polisi pas pagi hari… tepuktangan dari presentasipun ga ada, ga dibolehin masuk ke kelas… gara2 telat…
*sangat ingat sekali