Menelan Angkuh di Diriku
Aku, dalam perjalan hidupku ku telah menjejak banyak langkah. Ku telah banyak terlibat dalam hidupku. Ku telah menelan banyak kepahitan di tiap hari-hari ku. Lalu, demi mencapai angan ku, ku jejali hari-hari ku yang kini dengan mempelajari masa lalu ku. Mencerdaskan hari kini ku dengan pengalaman ku. Ku berusaha menyempurnakan hari esok ku. Agar tak begitu meleset dari harap ku. Dan ku yakin, aku mampu menaklukkan hari-hari itu.
Namun, ternyata keyakinan ku itu membutakan ku. Keyakinanku itu menyesatkan ku pada keangkuhan. Angkuh pada hari yang kini. Angkuh pada tantangan yang sekarang. Tantangan yang kini, tak tersolusi oleh pengalaman ku. Tantangan yang kini melibatkan manusia, kultur, dan perilaku yang berbeda. Manusia yang cenderung memanipulasi hati dan bicaranya. Kultur yang menyembunyikan sesuatu dan tak berterus terang. Perilaku yang menjilat dan membunuh pelan-pelan dari belakang.
Sudah seharusnya ku membenahi tantangan ini. Agar tak menjadi tebing terjal yang memenjarakan dan mematikan langkah ku. Aku harus menjadi lebih cerdas. Aku harus mampu mempelajari hari yang kini, lalu mensolusikannya untuk hari ini demi hari esok. Aku harus mampu menenggelamkan amarah ku, menaklukkan manusia-manusia itu, mematahkan kultur itu, membunuh perilaku-perilaku itu. Aku tak boleh mengangkuhkan pengalamanku. Aku harus menyatakan bahwa “aku masih harus belajar…”. Aku harus berpindah dari titik jenuh ini, menuju pengalaman-pengalaman baru, demi pembelajaran masa esok ku.
Aku harus tetap dan terus melangkah.


